Tetapi kini ini, kenyataan tersebut makin miris untuk diakui. beberapa ratus aliran sungai di Pulau Jawa telah tidak pantas lagi jadi sumber kehidupan. Alirannya bagaikan genangan sampah & limbah berbahaya. Daerah aliran sungai tidak ubahnya juga sebagai pemasok sampah. Imbasnya bantaran sungai makin mengecil & menyempit. Kala keseimbangan lingkungan sungai semakin tidak berdaya dihancurkan oleh tangan-tangan manusia, sehingga sungai dapat memberikan ancaman nyata bencana tanah longsor & banjir.
Kenyataan tersebut kelihatan terang wilayah Propinsi jawa tengah. sewaktu ini, sejumlah 136 sungai yg mengalir rata di seluruh kota di jawa tengah sudah tercemar & berada dalam keadaan kritis. Fakta tersebut diungkapkan oleh Sudarto, seorang pakar lingkungan dari Kampus Diponegoro seperti yg dilansir dari page Tempo.co
Pencemaran limbah sudah memberikan kerusakan hebat di beberapa ratus sungai di Jawa Tengah. aspek ini terlihat terang berjalan akibat pembuangan limbah industri & limbah domestik dari pemukiman yg tidak pas tempatnya. Padahal nyata-nyatanya tidak sedikit industri di Jawa telah berjalan dengan cara modern dalam urusan instalasi pengolahan limbah, tapi yg terjadi justru sebaliknya, limbah konsisten terbuang di sepanjang aliran sungai & imbasnya yakni angka kejadian bencana banjir yg semakin meningkat tiap tahunnya.
Tidak cuma dari industri, limbah busuk & berbahaya yg mengalir sepanjang aliran sungai di Jawa Tengah pula berasal dari permukiman. Pantas dipercaya bahwa sebahagian gede masyarakat di Jawa memang lah lah belum mengenal teknologi pengolahan limbah layaknya negara-negara maju. Imbasnya, hujan lebat sebentar saja bisa jadi banjir, meluapkan sungai seketika dikarenakan sudah rusaknya keseimbangan sungai. Air sungai serta tidak dapat digunakan yg adalah penyangga kehidupan penduduk disekitar aliran sungai.
Masalah lain pun muncul diwaktu keseimbangan sungai telah begitu terkikis, bukan tidak mungkin bencana longsor atau pergerakan tanah di sekian banyak aliran sungai yg mempunyai tebing pass tinggi sanggup berikan ancaman lain.
sekian banyak bln silam, (27/4) bencana longsor tebing sungai menerjang perbatasan Dukuh Plosorejo dgn Dukuh Malangan, Desa Kalimacan, Kalijambe, Sragen. Tebing setinggi empat m di pinggir Sungai Malangan ambrol sepanjang 12 m sesudah diguyur hujan deras. Longsoran tebing sungai memang lah tak dengan cara langsung berlangsung akibat efek pencemaran, tapi Perubahan masif pada Daerah Aliran Sungai sudah nyata menyebabkan tidak sedikit kerugian. janganlah hingga keadaan sungai yg telah begitu kritis di Pulau Jawa khususnya jawa tengah tidak jadi prioritas pencegahan bencana. Strategi paling baik mesti segera dipikirkan, sungai itu pun yg adalah sumber kehidupan bukan berubah fungsi jadi sungai sumber bencana.(CAL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar