Senin, 25 Januari 2016
Ini Alasan Kenapa Jakarta selalu Banjir
Karena banjir dan Jakarta sudah menjadi semacam kesatuan tak akan dipisahkan. Tiap periode hujan Jakarta selalu banjir, bukti ini sudah terbukti bahkan sejak berabad silam.
Lantas pertanyaannya, mengapa Jakarta selalu banjir? Berikut adalah 4 argumen kenapa Jakarta senantiasa banjir.
Pemerintah Jakarta tetap lambat mengatasi banjir
Urusan pengelolaan sebuah Kota yakni tanggung jawab sepenuhnya pemerintah Kota. Dikarenakan hanya dengan kebijakan yang tegas dan bijak masalah suatu kota bakal terselesaikan. Tetapi disayangkan masalah banjir hanya menjadi prioritas lemah bagi pemerintah Jakarta terdahulu. Dulu banjir Jakarta hanya disikapi oleh pemerintah Jakarta saat banjir sudah berjalan. Hanya menanggulangi saat banjir terjadi. Tak ada pembenahan dari segi apa yang menyebabkan banjir. Baru kali ini Bung Basuki Tjahaja Purnama selaku Gubernur Jakarta melakukan kebijakan yang tegas buat mencegah banjir Jakarta. mulai dari pengerukan sungai, normalisasi bantaran sungai Ciliwung dan normalisasi drainase Jakarta.
Lahan Terbuka nyaris hilang
Pembangunan di Jakarta adalah masalah serius yang tak dapat pernah mampu terselesaikan. Egoisme untuk membangun mengalahkan hak tanaman hijau buat tumbuh. Idealnya Tempat Terbuka Hijau di Jakarta harus berjumlah 30% dari total luas semua wilayah Jakarta. Namun faktanya Tempat Terbuka Hijau di Jakarta disaat ini tak sampai 10% dan malah semakin tergerus. Padahal Ruangan Terbuka Hijau berfungsi juga sebagai penyerap air yang baik dan alami.
Pembangunan gedung dan hutan beton makin tidak terkendali
Sewaktu ratusan th pengembangan Jakarta, Kota ini diprospek untuk menerima pembangunan gedung bertingkat dan hutan beton. Dikarenakan Jakarta yaitu Ibukota, Jakarta adalah pusat dari segala perekonomian. Maka dari itu, pembangunan hutan beton tak bisa dicegah. Akhirnya tanah makin tertutup, tak ada resapan air sama sekali.
Ribuan warga mendirikan rumah di bantaran sungai
Sejak lalu, Jakarta yakni kota teluk, Jakarta merupakan hilir dari amat tidak sedikit falsafah sungai yang berhulu di pegunungan tinggi jabar. Aliran sungai yang terbentuk secara alami membelah Jakarta harusnya tak boleh terganggu alirannya sama sekali. Namun kenyataannya berkisah sebaliknya. Hampir separuh dari panjang sungai Ciliwung di Jakarta malah jadi ruang rumah tanpa izin masyarakat marjinal. Mereka menetap di bantaran sungai dengan rumah bedeng. Mereka membuang sampah dan apapun ke aliran sungai. Akhirnya tatkala puluhan tahun sungai Ciliwung mengalami penyempitan dan pendangkalan.
sumber
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar